Tampilkan postingan dengan label #CeritaDariKamar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #CeritaDariKamar. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Agustus 2013

Cerita Dari Dalam Kamar #12. Walkie Talkie

#CeritaDariKamar Day12

Ciee #CeritaDariKamar, proyeknya kak Bara udah nyampe di hari ke-12. Dan masih, saya berharap semoga bisa menuntaskan tantangan ini sampai hari ke-31 nanti. Dan nggak lupa, mengharap keberuntungan --- biar paling nggak salah satu cerita saya terpilih untuk dibacakan onair. Tapi, bener juga kata kak Bara, kalau proyek nulis #CeritaDariKamar ini lebih untuk kepuasan batin diri sendiri. Dan saya setuju. Jadi kalau dalam sehari belum nulis satu #CeritaDariKamar itu rasanya masih punya hutang yang bikin hati ngganjel.

*Back to the topic*
Tema #CeritaDariKamar saya hari ini nggak jauh-jauh amat dari cerita saya kemarin yang berjudul "Inget BRICK GAME?". Iya, bener banget. Cerita saya ini masih akan membahas tentang satu mainan masa kecil yang masih tersimpan rapi sampai di hari ini.





Walkie talkie, itu mainannya. Kata bapak, dulu pas masih kecil --- tepatnya TK, saya pernah nonton film entah apa. Dan dalam film itu, ada orang berkomunikasi pakai walkie talkie beneran. Dan saya pengen. Tapi, nyari-nyari nggak ketemu. Sampai akhirnya, di suatu hari yang diberkahi Allah, akhirnya nemu juga walkie talkie ini di toko. Awalnya nggak boleh beli, tapi ujung-unjungnya,saya keluarkan senjata pamungkas. Iya, nangis sekeras-kerasnya sampai yang punya toko risih. Akhirnya, ini walkie talkie berhasil kebawa pulang juga. Hehehee...

Kalau main walkie talkie ini biasanya sama satu-satunya kakak saya. salah satu dari kami akan berada di belakang rumah, sementara yang satu lagi di depan rumah. And it works! Biasanya, kami main polisi-polisian gitu. Ceritanya lagi nggerebek atau ngejar penjahat gitu. Duh! Kangen deh main kayak gitu lagi.

Sayangnya, walkie talkie ini udah rusak. Jadi sekalipun baterai sudah diganti, mainan ini sudah tidak berfungsi lagi seperti sedia kala, sehingga yang akan terdengar hanyalah bunyi kemresek.

Sama halnya dengan brick game kemarin, mainan ini sempet diminta sama sepupu. Tapi lagi-lagi, saya nggak kasih izin karena --- ya, tahu kan, kenangannya banyak.
Begitulah, kisah bersejarah antara saya dan walkie talkie ini. Jadi pengen kembali ke masa kecil barang cuma sehari :)


Salam dari mantan polisi-polisian.
Bye.

Minggu, 11 Agustus 2013

Cerita Dari Dalam Kamar #11. Inget BRICK GAME?

Selamat malam bloggers yang berbahagia,
Seperti biasa, kali ini saya mau setor #CeritaDariKamar buat proyeknya kak Bara, dan yang mau saya bahas kali ini adalah sebuah permainan jadul yang saya nggak tahu pasti namanya apa. Tapi yang jelas, "BRICK GAME 9999 in 1" adalah tulisan yang terbaca di mainan itu. Inget? Pernah punya? Yang kayak gini nih...



 


Saya juga nggak tahu kenapa saya suka nyimpen mainan-mainan masa kecil. Kalau ngelihat itu mainan terus keinget masa kecil itu rasanya --- emm. Saya yakin, kalian juga pasti pernah merasakan era populernya permainan ini. 

Saya masih inget banget, mainan ini saya beli waktu lagi jalan-jalan sama keluarga besar di kebun binatang --- lupa kebun binatang yang dimana. Kalau nggak Jogja ya Solo, tapi kayaknya Jogja sih. Dan saat itu saya masih TK. Jadi, di sepanjang jalan gitu, banyak yang jualan mainan. Dan karena saudara-saudara saya pada beli, saya juga ikutan beli. Padahal sebenernya di rumah udah ada "BRICK GAME" yang lebih unyu. Iya, unyu. Bentuknya hello kitty, warnanya biru. Bayangin deh, unyu banget kan? Sebuah brick game yang sepertinya tercipta untuk gadis kecil yang juga unyu-unyu gitu *kemudian ditoyor*. Tapi sayangnya udah rusak. Itulah sebabnya saya beli lagi yang warna hijau ini, dengan bentuk yang standar. 

Sayang banget ya, nggak ada foto brick game yang bentuk hello kitty *nangis*. Tapi setelah googling, ya kira-kira seperti ini bentuknya....

 (Cuma, punya saya warnanya biru.. Imut kan? Kayak saya?)


Dan entah sekarang udah dimana. Ngomong-ngomong, proses rusaknya agak tragis juga loh. Jadi waktu itu,  saya dan kakak saya (saya belum sekolah --- dan kakak saya lebih tua 7 tahun dari saya) bertengkar layaknya dua kakak beradik. Jambak-jambakan, cubit-cubitan, ya gitu deh. Tapi kemudian, semua berakhir dengan tangisan saya yang panjang waktu kakak saya ngelempar brick game hello kitty saya itu ke arah pintu, sampe bagian kepala dan badannya hampir copot *nangis lagi*. Duh, andai waktu itu ngak bertengkar, mungkin si hello kitty masih saya simpen. Ngomongin game jaman dulu jadi keinget tamagochi telur warna biru saya yang jga sudah raib. Ya tinggal brick game hijau ini kayaknya yang masih kesimpen sampai sekarang. Jangan ngilang ya, nak!

*Back to the green brick game*
Sampai sekarang, brick game saya ini masih bisa dimainin loh. Cuma baterainya aja yang musti diganti. Bahkan sepupu saya yang sekarang masih SD suka mainin ini. Padahal ini dari jaman saya TK. Waktu itu sempet diminta sepupu saya itu sih, intinya dia mau ambil alih kepemilikan brick game ini. Tapi nggak saya kasih izin. Bukannya jahat, pelit atau gimana. Bukan soal uang atau apa. Tapi ini sejarah. Boleh pinjem, tapi balikin ya, karena banyak kenangan di dalamnya....


Salam dari Mainan Jadul.
Bye.

Sabtu, 10 Agustus 2013

Cerita Dari Dalam Kamar #10. Philatelic Stuff

#CeritaDariKamar Day10


Nggak terasa, #CeritaDariKamar, yang merupakan proyeknya kak Bara udah sampai di hari ke-10 aja *applause*.

Di hari kesepuluh ini, saya mau cerita tentang hobi lama yang mulai terlupakan. Meski sudah mulai terlupakan, tapi bekas-bekas sejarahnya masih tersimpan rapi, di dalam lemari.

Ya, saya dulu adalah --- sebut saja filatelis abal-abal. Saya emang suka ngumpulin perangko. Dulu, sewaktu kecil, ibu saya suka bawain saya perangko-perangko dari kantornya. Kan jaman dulu belum jaman digital gitu kan, jadinya instansi-instansi perkantoran masih sering berkirim surat. Nah, dari situlah awal mula hobi ini.

Baru  pas SD sampai SMP saya suka ikutan beli perangko-perangko edisi khusus keluaran Pos Indonesia. Ada edisi Cerita Rakyat dan Piala Dunia. Yang lain nggak kebeli. Karena saya beli pake duit sendiri, dan masih SD-SMP pula. Tabungan nggak seberapa, padahal edisi yang lain masih banyak dan bagus-bagus *nangis*.




Asiknya, Pos Indonesia suka ngasih surprise gitu. Jadi waktu itu tanpa diduga, saya dapet kiriman satu paket kartu pos edisi kumbang yang katanya sebagai bonus. Waktu SMP awal, ada satu edisi yang bikin ngiler nggak berhenti-berhenti. Dari edisi itu, ada beberapa tema yang ditawarkan. Tapi lagi-lagi, uang terbatas, saya cuma beli satu tema. Dan sampai hari ini, masih tersimpan rapi beserta amplopnya. Dan saya rasa, perangko edisi ini bakalan jadi perangko favorit saya sepanjang jaman. Ini dia...

(Sayangnya nggak ada mas Tom Felton-nya)

Kalau nggak salah, itu terakhir saya beli-beli perangko untuk dikoleksi. Setelah itu, saya sibuk sendiri dengan hobi-hobi baru yang mulai menggoda. Ya, gitulah. Tapi tiap beres-beres kamar, saya selalu nyempetin buka album perangko dan menyusur masa lalu dengan perangko-perangko di dalamnya. Dan rasanya, saya masih pengen untuk bisa bergelut dengan dunia filateli lagi. Nanti lah, bentar lagi.






Salam Filatelis Indonesia.
Bye.



Jumat, 09 Agustus 2013

Cerita Dari Dalam Kamar #9. SIGI

#CeritaDariKamar Day9




Halo readers yang sempet-sempetnya nyasar kesini diwaktu lebaran. Hari ke-sembilan ini, saya mau membahas tentang satu lagi barang di kamar saya untuk menjawab tantangannya kak Bara. Dan, hari ini adalah harinya SIGI.

Iya, SIGI. SIGI itu nama gitar saya. Awalnya, saya nggak punya nama untuk gitar saya ini. Tapi, seiring berjalannya waktu, kalau saya lai cerita ke temen atau sodara, suka refleks nyebut "SI-GI-tar". Alhasil, sampai sekarang saya malah manggil gitar saya dengan nama SIGI. Sebenernya saya emang suka sih kasih nama ke beberapa barang kesayangan saya haha.

SIGI ini adalah teman di berbagai situasi dan kondisi. Waktu panas dimainin, waktu hujan dimainin, waktu seneng dimainin, waktu galau apalagi *eh kan curcol lagi*

Gitar ini dibeliin sama Bapak saya udah lama. Saya lupa, kalo nggak salah pas SMP .Dulu, waktu pertama kali belajar gitar, saya nggak langsung dibeliin. Bapak bilang,

    "Kalau udah bisa, baru dibeliin..."

Nah loh, padahal untuk bisa main, otomatis musti ada gitar kan di rumah buat latihan. Akhirnya, gitar kakak sepupu saya lah yang jadi korban jari-jari amatir saya ini. Beberapa waktu kemudian, ketika saya sebenernya juga belum bisa-bisa-amat maininnya, akhirnya saya tetep dibeliin juga *senyum puas*

Saya sebenernya udah agak lama ada rencana beli gitar baru. Akustik tapi yang bisa dicolokin listrik. Berapa ya harganya? Pengen pake banget. Lagi nabung nih. Ayo ayo, yang mau berkontribusi bisa langsung hubungi saya, untuk nanti saya kasih nomer rekening dan silahkan ditransfer sejumlah uang seikhlasnya saja hahahaha. Sudah, abaikan saja. Nopi nya lagi gila.

Dan, belum lama ini, tepatnya setelah saya mendengar lagunya Paramore yang berjudul Moving On, saya jadi pengen punya ukulele juga. Ah, manusia emang nggak pernah puas ya.

Tapi ngomong-ngomong soal SIGI, saya lagi sedih lantaran SIGI ini terancam nggak bisa kebawa ke kosan. Dengan alasan kamar kos emang termasuk sempit dengan dua penghuni, jadi sepertinya emang nggak memungkinkan untuk SIGI ikutan numpang tidur disana.Tapi sebenernya saya rela kok kalau SIGI sementara di kolong ranjang dulu sampai bisa dapet kamar baru yang lebih luas. Nggak masalah sih sebenernya di kosan tanpa SIGI kalau misal kosannya deket rumah yang bisa pulang seminggu sekali. Tapi ini kan jauh, bahkan dari pengalaman kakak-kakak tingkat, mereka bisa pulang biasanya cuma di akhir semester genap aja. Parah kan? Ya, anggep aja setengah tahun pulang. Setengah tahu? Enam bulan? Tanpa SIGI? Betapa hampanya nanti kamar tanpa genjrengan SIGI. Tapi tetep, selalu ada plan B. Kalau emang SIGI nggak dibawa, nanti saya mau beli yang baru disana. Diem-diem. Karena kalau cerita, nanti yang ada adalah...

    "Nggak usah! Buat apa gitar dua? Gitar satu aja nggak abis-abis!!"

Nah, jadi mending beli diem-diem. Kalau udah kebeli, baru deh cerita. Karena kalau udah kebeli kan nggak mungkin lagi dibalikin ke penjualnya ye kan? *senyum licik* haha.

Nah, begitulah kisah antara saya dan SIGI yang sebentar lagi akan terpisah jarak. Baek-baek di rumah ya SIGI.



Salam dari Saya dan SIGI.
Bye.

Kamis, 08 Agustus 2013

Cerita Dari Dalam Kamar #8. My Forever Moodbooster

#CeritaDariKamar Day8


Malem para bloggers. Eh, selamat idul fitri ya, maafin nopi yang suka nulis nggak jelas ini ya. Ngomong-ngomong, malem ini, waktu nulis postingan ini, saya lagi deserang migren dan perih mata yang hebat. Tapi demi kak Bara, saya tetep ngerjain #CeritaDariKamar hari ke-8 dong. Dan tema malam ini adalah "My Forever Moodbooster".

Iya, jadi kalo kata saya, setiap orang itu pasti punya sesuatu yang bisa membangkitkan semangat yang kalo kata anak-anak gahol/gaul/gahul/gawl namanya 'moodbooster'. Kalaupun ada yang ngerasa nggak punya moodbooster, coba deh dicari. Pasti ada. Siapa tahu nyungsep di sepatu. Atau mungkin sembunyi di kolong ranjang. Atau malah lagi sibuk main sama mantan #abaikansaja.

Kadang, moodbooster seseorang itu bisa berupa lagu, film, barang atau hal lain. Dan punya saya masuk dalam kategori barang. Iya, sebuah buku san sebuah amplop. Cukup simpel kan untuk sebuah moodbooster. Jadi, kenapa spesial? Karena buku dan amplop ini datang dari benua seberang. Amerika cyiiiin!

No no no, sebenarnya bukan karena darimana ini berasal. Tapi lebih ke arah rasanya. Kalau ngelihat buku dan amplop ini, rasa-rasanya passion saya meledak-ledak. Impian saya yang lagi surut tiba-tiba pasang lagi. Jadi tiap kali lihat booklet itu, saya teringat lagi akan mimpi-mimpi saya yang belum terwujud, dan masih harus dikejar. To be honest, buku itu selalu ada di meja saya. Nggak pernah saya masukin ke lemari, laci ataupun saku celana. Iya, selalu di meja. Supaya bisa saya lihat tiap hari. Dan to be honest lagi, saya hampir selalu berkaca-kaca tiap melihat buku itu. Mungkin sulit bagi orang lain untuk memahami, tapi buku dan amplop itu berharga banget buat saya. 

Maaf kalau tulisannya agak acakadut dan nggak jelas, karena :
- saya lagi migren
- udah malem
- seharian muter-muter
- saking semangatnya, malah jadi acak-adut
- mata perih .... liat kamu sama dia *eh #abaikanlagiya

Sekian *mulai terharu*


Salam Anak Moody.
Bye.

Rabu, 07 Agustus 2013

Cerita Dari Dalam Kamar #7. Another Reminder

#CeritaDariKamar Day7


  


Haloh semuanyah, malam ini adalah malam takbiran, yang bagi saya berasa sama aja kayak malam-malam yang lain. Ya, bener, malam yang saya habiskan untuk pacaran sama laptop. Miris memang. Tapi malam ini saya musti setor #CeritaDariKamar hari ke-7 sama kak Bara lagi. Oke, dan yang akan saya bahas adalah --- reminder. Iya, pengingat.

Pengingat ini bukanlah pengingat jaman sekarang yang serba digital. Reminder saya ini masih jadul, biar kedengeran gaul, sebut saja konvensional #apasih.

Jadi, reminder saya ini berupa kertas-kertas kecil beraneka bentuk, macam dan warna yang saya tempel di meja belajar saya. Jadi, tiap kali duduk di depan meja belajar, itu reminder bakalan otomatis terlihat dan terbaca oleh saya. Padahal saya jarang-jarang main di sekitar meja belajar *duh. Fungsi reminder ini sendiri adalah pengingat (tentu saja), karena saya memang termasuk orang yang agak susah inget (baca: pelupa).

Ya, bisa dilihat lah di gambar. 


 


Ada catatan tugas jaman SMA *sekarang udah jadi camaba*. Ada catatan utang pulsa. Ada jadwal pelajaran yang isinya cuma semacam kode. Tapi dari kesemua catatan saya, yang terpenting bagi saya adalah catatan-catatan yang berupa target dan motivasi. Banyak target dan impian tertulis di sana. Jadi, tiap kali saya melihat dan membacanya, saya senyum-senyum sendiri. Jadi lebih semangat. Meskipun ada beberapa target yang --- ah sudahlah! Tapi kertas-kertasnya masih saya tempel dan nggak pengen saya copot. Biar jadi kenangan, kalau saya pernah bermimpi mendapatkannya, lalu gagal, dan ditukar Tuhan dengan yang lebih baik *ceileeeh*.

Ya, gitu deh pokoknya. Nah kan, sayanya jadi keinget mimpi-mimpi yang belum terwujud
 *cakar tembok*

Ya sudah, mari kita berdoa, supaya mimpi-mimpi kita *ecieee kita* bisa terwujud ya. Amin.


Salam dari Sang Pemimpi.
Bye.



Selasa, 06 Agustus 2013

Cerita Dari Dalam Kamar #6. Kacamata Kedua


  #CeritaDariKamar Day6




Halo, #CeritaDariKamar hari ke-6 buat tantangannya kak Bara kali ini adalah tentang kacamata. Iya, kacamata ber-frame ungu ini adalah kacamata kedua saya. Jadi ceritanya, kacamata saya yang pertama itu salah satu kacanya copot gara-gara keinjek sepupu. Kampret memang. Sebenernya (mungkin) bisa sih dibenerin. Tapi, rusaknya kacamata saya itu juga malah bisa jadi alasan buat saya untuk...

    "Lah, daripada mbenerin pake ongkos lagi, mending ganti sekalian aja ya Buk? Ya Buk?"
Hahaha, rada modus sih. Tapi akhirnya berhasil. Dan dapetlah saya kacamata ini. Udah lama. Tiga tahun lalu lah. Saya bukan orang berkacamata. Pas jaman sekolah nggak pake kacamata. Kalau pergi-pergi juga nggak pake kacamata. Iya, kacamata saya ini emang barang rumahan banget. Dipakenya kalau pas di rumah aja. Pas baca, nulis, nonton TV dan lain-lain. Dulu, saya suka nekat nggak pake kacamata kalau lagi baca atau nonton TV. Alasannya, "Ah, belum parah kok minusnya!"

Walhasil, saya sering migren. Sejak itulah saya jadi selalu pake kacamata kalau memang lagi butuh. Tapi masih belum pede keluar pake kacamata. Mungkin karena orang-orang nggak terbiasa lihat saya pake kacamata ya. Tapi kemungkinan sebentar lagi, di masa perkuliahan ini *ceileeeh* saya akan rutin pake ini kacamata hahaha.

Well, nggak tahu lagi apa yang musti diceritain dari benda satu ini. Udah ya, gitu aja.

Salam Mata Minus. Bye.





Senin, 05 Agustus 2013

Cerita Dari Dalam Kamar #5. Si Mocil

#CeritaDariKamar Day5 




Masih dengan #CeritaDariKamar saya di hari ke-5 untuk mememenuhi tantangan dari kak Bara. Well, barang di kamar saya yang jadi objek adalah "si Mocil". Mocil ini adalah boneka kucing warna loreng-loreng putih dan coklat muda.

 Lalu? Begini sejarahnya ...

Jadi sebenernya, nama Mocil ini saya ambil dari nama mantan kucing saya. Iya, mantan. *nangis dulu*.

Jadi, dulu, saya punya kucing yang warnanya juga loreng-loreng putih-coklat gitu, mirip sama bonekanya.Waktu saya ambil dari rumah embah (baca : nenek) saya, dia masih kecil banget. Imut. Ya, kayak saya ginilah imutnya *kemudian dibakar massa*. Lalu, saya namakan dia Mocil dan saya pelihara dia di rumah. Mocil ini lincah banget, saking lincahnya, baru lima menit ditinggal, saya-nya udah bingung nyariin. Eh ternyata udah main aja di atas kasur. Dasar!

Sayangnya, si Mocil ini kayaknya homesick gitu, kangen rumahnya (baca : rumah nenek saya). Karena sebenernya si Mocil ini punya 2 saudara sepantaran. Jadi, pas say ambil Mocil doang, kayaknya 2 saudaranya ini nggak rela. Dan Mocil juga kayaknya masih pengen kumpul sama saudara-saudaranya tadi *sok tau*. Jadilah si Mocil ini maunya keluar rumah terus. Saking takutnya dia kabur, si Mocil ini sampai tak masukin kurungan burung. Soalnya saya nggak punya kandang kucing. Maaf ya Cil sayang :*

Karena kasian, akhirnya Bapak saya ngembaliin si Mocil ke rumahnya dan dia kumpul lagi sama dua saudara dan juga emaknya. Dan waktu Bapak ngembaliin itu, saya pas masih sekolah. Jadi pas pulang --- dan mendapati itu kurungan udah kosong --- sempet kesel juga. Tapi ya udahlah.

Karena hampir tiap Minggu saya ke tempat embah, jadinya masih bisa ketemu Mocil tiap Minggu. Lalu, hari itu tiba. Hari Minggu, harinya embah, harinya ketemu Mocil. Dan ternyata --- Mocil udah mati beberapa hari yang lalu *nangis guling guling*

Beberapa bulan kemudian, saya ulang tahun. Dan ya, alhamdulillah ada kado dari beberapa temen dan saudara. Salah satunya dari bulik (baca : tante) saya. Isinya? Jeng---jeng... boneka kucing tadi. Krik krik krik.

Dan waktu itu karena pas saya buka, Bulik saya ini lagi pergi (baca : mudik) agak lama, jadinya saya ngucapin terima kasih untuk yang kedua kalinya lewat SMS. Dan beliau bilang...

"Buat gantiin Mocil"

Ah, jadi pengen nangis kan ini. Dan sejak hari itu, boneka ini saya panggil Mocil. Jadi kalau lihat boneka ini jadi keinget lagi sama Mocil. Mirip sih. 


 Ini si Mocil yang asli :*

Oke mungkin beberapa diantara kalian nganggep lebay atau gimana. Tapi ya emang gitu kalau udah sayang. Mau sayang sama manusia, hewan bahkan barang. Mwaha. Kangen Mocil :*


Salam Kucing. Bye.

Minggu, 04 Agustus 2013

Cerita Dari Dalam Kamar #4. Kaset Pita


#CeritaDariKamar Day 4


#CeritaDariKamar saya hari ke-4 yang masih ditulis dalam rangka ikutan proyeknya kak Bara ini berkisah tentang kaset-kaset lama saya. Nggak banyak. Cuma 7 biji. Sebenernya kalo di rumah masih lumayan banyak. Tapi beberapa diantaranya punya kakak dan bapak saya. Dan yang punya saya ya ini, cuma 7 ini. Dan ini udah lama banget nggak diputer. Karena playernya sudah rusak *self-puk-puk*

Ini koleksi kaset lama banget. Beberapa diantaranya saya beli waktu masih SD, sementara yang lain SMP kelas 1. Karena setelah itu, saya nggak tertarik sama kaset pita lagi. Atau lebih tepatnya --- udah nggak jaman?

Begini nih review abal-abal dari saya. Dan inget ya, ini cuma seingat saya saja...




1. WESTLIFE - ALBUM FACE TO FACE

Kaset ini saya beli waktu masih SD.Dulu pas saya masih TK, kakak saya (SMP) ngefans banget sama boyband yang satu ini, tiap hari dengerin lagunya. Mau nggak mau saya juga ikut ngedengerin. Walhasil, ketularan juga. Tapi seiring berjalannya waktu, selera musik saya berubah. Ya nantilah simak aja sampai habis. Inget banget     saya belinya di toko 'PEPAK KASET' yang mungkin sekarang lebih banyak dijual buku daripada kasetnya. Duh. Kaset pita emang sudah mau punah ya ceritanya?

2.KELLY CLARKSON - ALBUM BREAKAWAY

Ini juga saya beli pas masih SD.Dulu beli kaset ini cuma karena seneng lagu "Because of You" doang. Dan ternyata setelah didengerin full, nggak nyesel kok beli ini. Bagus-bagus lagunya. Dan kalo lagi ndengerin sambil nyanyi (duet sama Mbak Kelly ceritanya, suara saya langsung serak setelahnya. Range vokalnya gila bener *nyerah*.

3.BLUE - ALBUM ONE LOVE

Ya ampun, ini mah dibeli pas jaman SD juga. KOk dulu selera musik saya gitu ya? Padahal sekarang jadi gini loh, nggak gitu lagi #apasih. INi juga hasil kontaminasi kakak saya nih yang demen boyband western. Tapi tetep, lagu andalan mereka yang judulnya "One LOve", masih saya hafal sampai sekarang. mwahaa.

4.NIDJI - ALBUM BREAKTHROUGH

Satu-satunya album pribumi yang saya beli *malu*. Dan kalau nggak salah itu album pertama NIdji juga ya? Dan semenjak itu saya ngefans sama Nidji. Termasuk Bapak saya, yang selalu ikut nyanyi kalau lagi nyetel kaset ini. Mendadak, beliau menjadi seorang Nidjiholic -__-
Oiya, ini kaset Nidji dibeli pas kelas 6 SD kalo nggak salah sih.


5.GREEN DAY - ALBUM AMERICAN IDIOT

Ini juga saya beli pas SD. Totally cool! Lagu favorit : Jesus of Suburbia. Iye, lagu yang sepanjang kereta itu asik banget. Ya, gitulah pokoknya.Dari sini, genre musik saya mulai berubah hahahaa. Tahu kan jadi gimana?

6. MY CHEMICAL ROMANCE - ALBUM THREE CHEERS FOR SWEET REVENGE

Sebenernya, album MCR yang kedua ini keluarnya tahun 2004. Tapi karena waktu tahun 2004 saya baru kenal MCR dan baru mulai benar-benar ngefans dan dan jadi MCRmy di tahun 2006 -- jadilah saya telat beli. Barulah pas SMP (kayaknya 2008), saya berhasil mendapatkannya, dengan perjuangan keras *usap air mata*. Karena rilis 2004 dan belinya 2008. Bisa dibayangin nyari barangnya sesusah apa kan? Jadi, alhamdulillah ya Allah bisa dapet. Semua lagu di dalemnya suka. Favorit : Semuanya. Paling favorit diantara yang favorit : I'm Not Okay. 

7. MY CHEMICAL ROMANCE - ALBUM WELCOME TO THE BLACK PARADE

Ini nih album fenomenalnya MCR. Nggak perlu direview lagi karena mestinya semua orang sudah tahu. Lagu favorit : semua. Paing favorit diantara yang favorit : Disenchanted. Well, jadi kangen sama MCR. Balikan dong plis balikan *nyiumin kaset MCR*

Oke, begitulah cerita saya tentang kaset pita di hari ke 4 dalam #CeritaDariKamar saya. Cerita kamu, gimana?

Salam Minggu Malam...

Sabtu, 03 Agustus 2013

Cerita Dari dalam Kamar #3. Bangau Kertas


#CeritaDariKamar Day 3

Gambar itu adalah sebagian dari burung-burungan kertas yang telah saya buat semenjak duduk di kelas 2 SMA, dan sekarang saya sudah hampir menjadi seorang mahasiswi. Boleh percaya boleh nggak, mitosnya, kalau sesorang berhasil membuat burung-burungan (bangau) kertas sejumlah 1000, maka keinginan atau mimpinya akan terkabul. Kalau nggak salah itu kepercayaan orang Jepang ya? Eh atau bukan? *lupa*

Seingat saya, dari apa yang pernah saya baca, dulu--- di Jepang ada seorang anak yang sakit atau gimana gitu. Terus dia bikin burung-burungan kertas. Tapi sampai dia meninggal, jumlah burung-burungan yang dia buat nggak mencapai angka yang ditargetkan --- 1000. Tapi kemudian teman-temanya yang begitu sayang sama dia, melanjutkan perjuangannya membuat burung-burungan kertas. Bener gini nggak sih ceritanya? *sok tau*

Memenuhi tantangan dari kak Bara untuk membuat #CeritaDariKamar yang mana hari ini merupakan hari ke-3, mata saya langsung tertju pada warna-warni kertas yang lama tak tersentuh itu. Dengan plastik bening, kertas-kertas yang sudah saya lipat menjadi burung-burungan sejak duduk di kelas 2 SMA itu saya simpan. Terdapat dua plastik, dan masing-masing plastik berisi 100 burung-burungan. Jadi, seluruhnya ada 200. Baru seperlima dari angka 1000. Dan saya jadi ingat, saya sering membuatnya di jam pelajaran. Sejak kelas 2 sampai kelas 3 SMA. Kelas 3 akhir, saya sama sekali tak menyentuhnya lagi sampai malam ini tadi. Hmm... rasa-rasanya saya masih ingin melanjutkan perjuangan untuk bisa sampai di angka 1000. Bukan, saya bukan orang yang mudah percaya mitos seperti itu. Hanya saja, dari awal (awal memulai membuat burung-burungan kertas), saya memang sudah berniat untuk membuat 1000 buah. Jadi rasanya kalau saya bisa mencapainya, kepuasan batin akan saya dapatkan. Doakan ya! 

Terlepas dari mitos itu, tetap doakan saya ya supaya mimpi-mimpi saya --- kamu ---mereka ---kita semua ---bisa terwujud *senyum semanis Raisa* *kemudian ditimpuk*

Salam bloggerrrr!!


Jumat, 02 Agustus 2013

Cerita Dari Dalam Kamar #2. Keping-keping Impian

 *CeritaDariKamar Day2

Pagi ini, kala seluruh penghuni rumah, kecuali aku, tengah menyibukkan diri untuk bermesraan dengan Tuhan di masjid, aku hanya di sini. Di sini saja. Di dalam kamar. Rasanya enggan untuk beranjak. Sejenak pikiranku mulai berjalan. Kemanapun ia mau. Dan aku masih saja (sudi) mengikutinya.

Lalu ia berhenti. Berhenti pada satu waktu dimana memori haru kesenangan dan kesedihan berpadu satu. Dimana seolah semua yang kuimpi-impikan terhenti. Dimana perjuanganku selama ini serasa sia-sia. Tak berarti. 

Kupaksakan kakiku untuk beranjak. Kutarik kursi di depan meja, dan kupandangi apa yang tersuguh di atasnya. Sebuah buku berkover orange. Chicken Soup for the Writer's Soul : Harga Sebuah Impian. Entah sudah berapa kali aku menamatkannya. Tapi tiap kali aku membutuhkan sesuatu untuk menggebrak lagi mimpi-mimpi itu, dia selalu ada. Sekadar untuk kubaca. Dan aku akan tersenyum lagi setelahnya. Terima kasih.

(Masih ikut #CeritaDariKamar nya kak Bara nih. mehee)


Kamis, 01 Agustus 2013

Cerita Dari Dalam Kamar #1.Melepas Rindu dalam Warna

Malam ini cahaya terang masih memendar dari layar notebook di hadapanku. Pagi, siang, malam. Apa yang bisa kuperbuat dengan deadline mengejarku tanpa ampun belakangan ini? Lalu beginilah kehidupanku seminggu ini. Ya, mata lelah, bahu pegal, tidur tak nyaman karena terus memikirkan deadline.

Rasanya aku ingin membaringkan tubuhku ke atas kasur barang lima menit saja. Memejamkan mataku untuk sekadar menghilangkan perihnya. Lalu membukanya lagi. Mengedarkan padangan ke seluruh ruang kamarku yang berwarna biru langit, dengan beberapa bagian yang sengaja kucat hitam. Lalu aku akan terhenti pada bagian itu. Iya, dua sisi dinding yang hampir penuh dengan bingkai-bingkai yang membalut gambaran-gambaran masa kecil. 

Mendadak aku merasakan rindu yang tak terkira. Rindu pada kertas-kertas gambar, skecthbook, pensil, crayon. Aku rindu semua tentang menggambar. Hei, kemana saja aku selama ini? Aku terlalu sibuk dengan hal lain. Hal lain yang mungkin tak mendapatkan cinta sebesar cintaku pada lukisan-lukisan itu.

Pada kertas, pensil dan crayonku yang tersayang, maukan kalian menungguku sebentar lagi? Sebentar saja. Sampai deadline ini berlalu. Dan kita akan saling melepas rindu, dalam warna.


(Ini postingan iseng-iseng karena pengen turut meramaikan projectnya kak Bara, Cerita Dari Dalam Kamar. Hehe)