Selamat siang. Akhirnya nulis juga setelah sekan lama. Ya Tuhan, betapa jemariku merindukan keyboard ini. Haha
Well, judul yang --- aneh? Aku, Beliau dan The Way Home.
Sebenarnya, saya sedang tak ada bahan untuk ditulis. Lama nggak menulis, bukan cuma jari-jari tangan saja yang kagok. Tapi otak juga sama kagetnya. Ide nggak datang-datang. Bikin bosen.
Bosen. Sama seperti kemarin, ketika saya hanya berdiam diri di kosan tanpa kerjaan. Emm, ada lah beberapa hal yang seharusnya dikerjakan. Tapi karena mood sedang tidak baik, pada akhirnya saya hanya berdiam diri dan --- nonton film. Saya dapat film ini dari salah seorang teman saya yang beberapa waktu lalu sempat main ke kosan saya. Judulnya The Way Home.
Awalnya, saya nggak begitu tertarik dengan film-nya. Tapi setelah saya lihat, film ini layak kok ditonton. Layak banget. Mungkin kalian nggak akan menemukan adegan sedramatis sinetron Indonesia, adegan romantis sepasang remaja, atau begitulah. Tapi disini, kalian akan menemukan arti sebuah ketulusan. Ini apasih bahasanya sok banget :|
This movie reminds me of someone, somehow.
Saya nggak tahu ya apa reaksi kalian ketika nanti menonton film ini? Bisa jadi ketawa karena ada beberapa bagian yang konyol. Bisa jadi tertidur karena mungkin menurut kalian jalan ceritanya membosankan. Atau bisa jadi berkali-kali menahan air mata seperti saya, karena ...
Karena kenangan.
Jadi, film ini bercerita tentang seorang anak laki-laki (masih kecil) bersama ibunya yang pergi mengunjungi neneknya (ibu dari ibu anak laki-laki tadi) di desa. Desanya sih bukan yang terpencil gitu ya. Tapi jauh dari pusat kota. Ya begitulah. Settingnya mungkin di Korea, karena ini memang film Korea. Anak dan ibunya ini datangnya dari Seoul. Nah, si anak ini untuk beberapa hari dititipin ke neneknya karena ibunya ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan.
Sang nenek sudah sangat tua. Dia tidak bisa bicara sehingga selalu menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi. Punggungnya sudah sangat bungkuk. Sementara cucunya, si anak laki-laki tadi, yang terbiasa hidup enak di kota, ketus sekali sama neneknya ini. Sikapnya kasar dan kurang bisa menghargai orang lain (baca : neneknya).
Inti ceritanya sih memang sesederhana itu. Tapi, kalau kita ikuti film-nya sampai habis, kita akan menemukan arti "tulus" yang sebenarnya. Banyak adegan-adegan menyentuh dimana si cucu selalu saja bersikap tidak baik, tapi sang nenek selalu menjaganya, menyayanginya. Agak miris juga sih ngelihat film ini, kenapa anak-cucunya tinggal enak di kota, sementara sang orang tua hidup sebatang-kara di tengah kemiskinan.
Ada adegan dimana sang nenek menjual buah hasil panennya ke pasar bersama si cucu. Hasil penjualannya, dibelikannya makanan untuk si cucu. Saat si cucu tengah makan dengan lahapnya, sang nenek hanya memesan segelas minuman.
Bukan cuma itu aja sih, masih banyak lagi bagian-bagian lain yang memaksa air mata saya jatuh. Tak mau kalah, air dari hidung juga turut meluncur (baca : ingusan). Duh.
Lalu, kenapa 'Aku, Beliau dan The Way Home'?
Aku itu saya. The Way Home adalah judul film yang sedari tadi saya kisahkan. Lalu beliau?
Beliau adalah seseorang yang begitu besar jasanya di hidup saya. Duh, ini mata saya mulai berkaca-kaca lagi *nggak bohong*
Ya, beliau adalah nenek saya. Bukan ibu dari ayah atau ibu saya. Kami tidak ada ikatan darah. Tapi saya menyebutnya nenek. Beliau adalah orang yang merawat saya sejak kecil. Dulu, sewaktu kecil, saat ayah dan ibu tidak bisa selalu menemani saya karena harus bekerja, beliau yang menjaga dan merawat saya. Kalau melihat tingkah Sang Woo (nama anak laki-laki di film itu) yang konyol dan nakal, saya jadi teringat masa kecil saya. Saya begitu nakal. Suka minta yang aneh-aneh. Kalau nggak diturutin nangis. Dan beliau masih dengan sabar merawat saya.
Pernah, dulu, sewaktu kecil, saya minta diajak ke pasar tapi harus digendong dan harus jalan (tak boleh naik kendaraan). Padahal jarak rumah embah (baca : nenek) saya tadi jauh dari pasar. Tapi tetap beliau turuti. *FYI, saya sudah benar-benar mengangis saat ini*
Saya juga ingat, dulu, sewaktu embah sedang mencuci pakaian di kali (baca : sungai) dan saya bermain-main menangkap ikan-ikan kecil, ada seorang teman kecil saya yang memang terkenal nakal dan waktu itu menjahili saya. Saya berteriak minta tolong. Lalu beliau (nenek) datang memarahi teman saya tadi sambil memberinya pelajaran (mengayun-ayunkannya di air hingga gelagapan). Dan akhirnya dia jera karena setelah itu dia tak pernah menjahili saya lagi. Malahan beberapa tahun setelahnya kami ada di kelas yang sama di salah satu Sekolah Dasar. Haha.
Beliau bukan orang yang kaya harta. Beliau orang yang sederhana. Tapi dalam kesederhanannya, saya bisa melihat hatinya yang begitu kaya. Kalau dipikir-pikir, mana ada orang yang mau merawat anak nakal seperti saya yang bahkan tidak memiliki darahnya dengan sangat sabar kalau bukan orang yang benar-benar tulus?
Tahun kedua di Taman Kanak-kanak.
Beliau mulai sakit-sakitan. Saya tidak lagi pulang ke rumah beliau seusai sekolah. Saya pulang ke rumah ayah-ibu. Sendiri. Iya, sejak saat itu sepulang sekolah saya di rumah sendiri. Duh, kasian.
Karena keadaan semakin memburuk dan beliau tinggal sendirian di rumahnya, akhirnya almarhum Pakdhe (kakaknya ayah saya) membawanya ke rumahnya untuk dirawat di sana. Almarhum Pakdhe saya ini sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri karena memang beliau tidak punya anak. Dulu, sebelum saya, beliau (nenek) juga lah yang merawat kakak sepupu (anak dari almarhum Pakdhe) saya dan kakak saya.
Kelas 2 SMP.
Saya masih ingat, waktu itu saya tengah mengikuti pelajaran Bahasa Jawa. Lalu, salah seorang guru BP saya masuk ke kelas dan memanggil nama saya. Waktu saya keluar hendak menemuinya, saya malah disuruh membereskan buku-buku dan membawa serta tas saya keluar. Bingung. Tentu saja saya bingung.
Sampai di koridor depan ruang BP, saya dapati kakak saya dan kakak sepupu saya tengah duduk menunggu saya. Bingung. Saya semakin bingung. Tapi percaya atau tidak, setelah saya melihat ada kakak saya menjemput, saya tahu tengah terjadi sesuatu dengan beliau karena pada saat itu memang keadaan beliau sudah sangat lemah. Dalam perjalanan, barulah saya diberi tahu kalau beliau (nenek) meninggal. Saya tidak menangis. Sama sekali. Bukannya tidak sedih. Terkadang, kesedihan yang teramat dalam justru membuat air mata membeku.
Sampai rumah pun, disaat sudah banyak orang-orang datang untuk takziah, airmata saya belum keluar. Saya lalu masuk kamar, menanggalkan seragam sekolah dan berganti baju. Disaat itulah saya menangis. Di balik pintu. Air mata saya jatuh deras, tanpa suara.
Hari-hari berlalu. Mungkin sudah sekitar enam tahun. Selama enam tahun ini, bahkan sampai sekarang, saya masih sering menangis kalau teringat akan beliau. Kadang, ketika sedang berjalan dan secara tidak sengaja berpapasan dengan nenek-nenek, saya tiba-tiba teringat beliau.
Pernah, waktu sedang berada di studio Gambar Arsitektur beberapa waktu yang lalu, penyakit maag saya kambuh. Lalu saya dan teman saya pergi keluar untuk mencari obat dan air mineral. Di depan kampus, kami singgah di salah satu warung. Dan, penjaga warung tersebut adalah seorang nenek yang entah mengapa terlihat mirip sekali dengan beliau. Serius. Mirip.
Sampai sekarang, kalau sedang lewat depan kampus, saya selalu menoleh ke arah warung itu, siapa tahu saya bisa melihat nenek-nenek penjaga toko. Siapa tahu rindu saya terobati.
Dan kemarin, setelah menonton The Way Home, lagi-lagi saya diserang rindu yang amat sangat.
Beliau orang yang begitu besar jasanya di keluarga saya. Tanpa beliau, siapa yang merawat saya dan kakak saya?
Tuhan, jagalah beliau.
Tempatkanlah beliau di tempat yang paling baik, yang paling dekat denganMu.
Berikanlah selalu kebaikan-kebaikan kepada beliau.
Sebagaimana kebaikan-kebaikannya dulu selalu tercurah untukku.
Jangan lupa, selalu katakan padanya bahwa aku merindukannya.
Oh, dan satu lagi --- bila nanti tiba saatnya aku pulang kesana,
ijinkan aku untuk ada di dekatnya. Merasakan lagi dekapannya.
Amin.
Malang, 2014
Tampilkan postingan dengan label Playing Words. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Playing Words. Tampilkan semua postingan
Selasa, 14 Januari 2014
Sabtu, 04 Januari 2014
Biarkan, Biarkan Saja
Biarkan saja burung-burung pagi itu bersembunyi dalam sarangnya.
Biarkan saja. Biarkan mereka melepas lelah barang sebentar.
Lagipula, kau tak ‘kan mati tanpa nyanyian-nyanyian pagi mereka.
Biarkan saja hujan deras memaksamu untuk tetap tinggal.
Biarkan saja. Biarkan dia melepas rindunya yang tengah menggebu pada kecintaannya —- tanah. Lagipula, hujan tak ‘kan mengasihimu bila kau bersikeras
berjinjit-jinjit di atas tanah, mendongakkan kepalamu di bawah
langit bak anak kecil. Dia tak ‘kan berhenti hanya karena melihatmu ada disana.
Kau akan tetap basah kuyup dibuatnya.
Biarkan saja celoteh riang anak-anak kecil itu menghilang untuk beberapa saat.
Biarkan saja. Biarkan mereka terpejam, bebas berlarian di alam mimpi.
Lagipula, mereka akan sungguh merepotkanmu jika tengah terjaga.
Biarkan…
Biarkan saja…
Biarkan pagi ini menjadi pagi yang paling senyap.
Biarkan dirimu ada untuk dirimu sendiri.
Biarkan hatimu menata dirinya sendiri dalam kesenyapan.
Biarkan. Biarkan saja.
Biarkan saja. Biarkan mereka melepas lelah barang sebentar.
Lagipula, kau tak ‘kan mati tanpa nyanyian-nyanyian pagi mereka.
Biarkan saja hujan deras memaksamu untuk tetap tinggal.
Biarkan saja. Biarkan dia melepas rindunya yang tengah menggebu pada kecintaannya —- tanah. Lagipula, hujan tak ‘kan mengasihimu bila kau bersikeras
berjinjit-jinjit di atas tanah, mendongakkan kepalamu di bawah
langit bak anak kecil. Dia tak ‘kan berhenti hanya karena melihatmu ada disana.
Kau akan tetap basah kuyup dibuatnya.
Biarkan saja celoteh riang anak-anak kecil itu menghilang untuk beberapa saat.
Biarkan saja. Biarkan mereka terpejam, bebas berlarian di alam mimpi.
Lagipula, mereka akan sungguh merepotkanmu jika tengah terjaga.
Biarkan…
Biarkan saja…
Biarkan pagi ini menjadi pagi yang paling senyap.
Biarkan dirimu ada untuk dirimu sendiri.
Biarkan hatimu menata dirinya sendiri dalam kesenyapan.
Biarkan. Biarkan saja.
Sabtu, 03 Agustus 2013
Cerita Dari dalam Kamar #3. Bangau Kertas
#CeritaDariKamar Day 3
Gambar itu adalah sebagian dari burung-burungan kertas yang telah saya buat semenjak duduk di kelas 2 SMA, dan sekarang saya sudah hampir menjadi seorang mahasiswi. Boleh percaya boleh nggak, mitosnya, kalau sesorang berhasil membuat burung-burungan (bangau) kertas sejumlah 1000, maka keinginan atau mimpinya akan terkabul. Kalau nggak salah itu kepercayaan orang Jepang ya? Eh atau bukan? *lupa*
Seingat saya, dari apa yang pernah saya baca, dulu--- di Jepang ada seorang anak yang sakit atau gimana gitu. Terus dia bikin burung-burungan kertas. Tapi sampai dia meninggal, jumlah burung-burungan yang dia buat nggak mencapai angka yang ditargetkan --- 1000. Tapi kemudian teman-temanya yang begitu sayang sama dia, melanjutkan perjuangannya membuat burung-burungan kertas. Bener gini nggak sih ceritanya? *sok tau*
Memenuhi tantangan dari kak Bara untuk membuat #CeritaDariKamar yang mana hari ini merupakan hari ke-3, mata saya langsung tertju pada warna-warni kertas yang lama tak tersentuh itu. Dengan plastik bening, kertas-kertas yang sudah saya lipat menjadi burung-burungan sejak duduk di kelas 2 SMA itu saya simpan. Terdapat dua plastik, dan masing-masing plastik berisi 100 burung-burungan. Jadi, seluruhnya ada 200. Baru seperlima dari angka 1000. Dan saya jadi ingat, saya sering membuatnya di jam pelajaran. Sejak kelas 2 sampai kelas 3 SMA. Kelas 3 akhir, saya sama sekali tak menyentuhnya lagi sampai malam ini tadi. Hmm... rasa-rasanya saya masih ingin melanjutkan perjuangan untuk bisa sampai di angka 1000. Bukan, saya bukan orang yang mudah percaya mitos seperti itu. Hanya saja, dari awal (awal memulai membuat burung-burungan kertas), saya memang sudah berniat untuk membuat 1000 buah. Jadi rasanya kalau saya bisa mencapainya, kepuasan batin akan saya dapatkan. Doakan ya!
Terlepas dari mitos itu, tetap doakan saya ya supaya mimpi-mimpi saya --- kamu ---mereka ---kita semua ---bisa terwujud *senyum semanis Raisa* *kemudian ditimpuk*
Salam bloggerrrr!!
Jumat, 02 Agustus 2013
Cerita Dari Dalam Kamar #2. Keping-keping Impian
*CeritaDariKamar Day2
Pagi ini, kala seluruh penghuni rumah, kecuali aku, tengah menyibukkan diri untuk bermesraan dengan Tuhan di masjid, aku hanya di sini. Di sini saja. Di dalam kamar. Rasanya enggan untuk beranjak. Sejenak pikiranku mulai berjalan. Kemanapun ia mau. Dan aku masih saja (sudi) mengikutinya.
Lalu ia berhenti. Berhenti pada satu waktu dimana memori haru kesenangan dan kesedihan berpadu satu. Dimana seolah semua yang kuimpi-impikan terhenti. Dimana perjuanganku selama ini serasa sia-sia. Tak berarti.
Kupaksakan kakiku untuk beranjak. Kutarik kursi di depan meja, dan kupandangi apa yang tersuguh di atasnya. Sebuah buku berkover orange. Chicken Soup for the Writer's Soul : Harga Sebuah Impian. Entah sudah berapa kali aku menamatkannya. Tapi tiap kali aku membutuhkan sesuatu untuk menggebrak lagi mimpi-mimpi itu, dia selalu ada. Sekadar untuk kubaca. Dan aku akan tersenyum lagi setelahnya. Terima kasih.
(Masih ikut #CeritaDariKamar nya kak Bara nih. mehee)
Kamis, 01 Agustus 2013
Cerita Dari Dalam Kamar #1.Melepas Rindu dalam Warna
Malam ini cahaya terang masih memendar dari layar notebook di hadapanku. Pagi, siang, malam. Apa yang bisa kuperbuat dengan deadline mengejarku tanpa ampun belakangan ini? Lalu beginilah kehidupanku seminggu ini. Ya, mata lelah, bahu pegal, tidur tak nyaman karena terus memikirkan deadline.
Rasanya aku ingin membaringkan tubuhku ke atas kasur barang lima menit saja. Memejamkan mataku untuk sekadar menghilangkan perihnya. Lalu membukanya lagi. Mengedarkan padangan ke seluruh ruang kamarku yang berwarna biru langit, dengan beberapa bagian yang sengaja kucat hitam. Lalu aku akan terhenti pada bagian itu. Iya, dua sisi dinding yang hampir penuh dengan bingkai-bingkai yang membalut gambaran-gambaran masa kecil.
Mendadak aku merasakan rindu yang tak terkira. Rindu pada kertas-kertas gambar, skecthbook, pensil, crayon. Aku rindu semua tentang menggambar. Hei, kemana saja aku selama ini? Aku terlalu sibuk dengan hal lain. Hal lain yang mungkin tak mendapatkan cinta sebesar cintaku pada lukisan-lukisan itu.
Pada kertas, pensil dan crayonku yang tersayang, maukan kalian menungguku sebentar lagi? Sebentar saja. Sampai deadline ini berlalu. Dan kita akan saling melepas rindu, dalam warna.
(Ini postingan iseng-iseng karena pengen turut meramaikan projectnya kak Bara, Cerita Dari Dalam Kamar. Hehe)
Kamis, 28 Juni 2012
Aku dan Tuhan
Berdiri di sini, sendirian saja....
Bola-bola lampu sepanjang jalan meredup mengiring langkah-langkah pendekku....
Aku takut melangkah, aku takut menginjakkan kakiku di tempat yang salah, lagi....
Rasanya aku ingin berhenti saja...
Tapi mereka bilang, "Kamu sudah sejauh ini, teruslah berjalan..."
Ayolah, aku sudah cukup lama melambatkan langkahku di tempat ini, di persimpangan ini...
Aku tak tahu ke arah mana lagi kakiku harus berayun...
Terlalu banyak pilihan, dan aku takut...
Aku terlalu takut untuk memilih...
Tuhan...
Bisikkan padaku, tunjukkan padaku...
Saat Kau melempar kerikil-kerikil kecil di sepanjang jalan...
Lalu aku tersandung dan terjatuh dibuatnya,
Dan tak lama aku akan bertanya-tanya...
"Inikah artinya Tuhan masih menyayangiku?"
Bibirku akan terkatup sesaat, sebelum akhirnya aku berkata lagi,
"Atau Dia membenciku...?"
Lalu seseorang akan datang, menepuk pundakku dan berkata,
"Dia sangat menyayangimu, Dia ingin kamu belajar, Dia ingin kamu menjadi tegar, Dia ingin kamu tahu bahwa kamu kuat, maka dijatuhkannya kamu, untuk kemudian bangkit lagi"
Dan aku pun tersenyum
Terima kasih, Tuhan....
Kamis, 26 Agustus 2010
Lunatic's Words
(IV)
Kenapa kau ucapkannya ?
Jika hanya berinya asa,
tanpa wujudkannya
Tak pernah kau tahu
Dia menunggu
Lalu jatuh di titik jenuh
Tak baik di sini
Hanya untuk sakiti
Bila asanya telah raib
Satu kata kan mengalir
’Pergi...’
24 Agustus 2010
Kenapa kau ucapkannya ?
Jika hanya berinya asa,
tanpa wujudkannya
Tak pernah kau tahu
Dia menunggu
Lalu jatuh di titik jenuh
Tak baik di sini
Hanya untuk sakiti
Bila asanya telah raib
Satu kata kan mengalir
’Pergi...’
24 Agustus 2010
Kamis, 29 Juli 2010
Lunatic's Words ( III )
Kuresapi
Kata yang terbisik
Tak berbelit
Aku tak dibuatnya pusing
Bukan kalimat panjang
Bukan syair indah
Tapi mendengarnya,
Senyumku kembali terpasang
Kau sentuh hati
Yang sempat pedih
Untuk ini,
Terima kasih
10 Juli 2010
(Tulisan ini khusus didedikasikan kepada ’seseorang’ yang telah mengubah hidup saya. Terima kasih)
Kata yang terbisik
Tak berbelit
Aku tak dibuatnya pusing
Bukan kalimat panjang
Bukan syair indah
Tapi mendengarnya,
Senyumku kembali terpasang
Kau sentuh hati
Yang sempat pedih
Untuk ini,
Terima kasih
10 Juli 2010
(Tulisan ini khusus didedikasikan kepada ’seseorang’ yang telah mengubah hidup saya. Terima kasih)
Lunatic's Words ( II )
Ucap saja, kan kudengar
Lelah memang
Tapi inilah untuk apa aku ada
Benar kan ?
Hidupku untuk ini semua
Tak perlu ada sesal,
yang mengganjal
Aku bahagia karenanya
Hanya kadang,
Aku juga ingin didengar
10 Juli 2010
Lelah memang
Tapi inilah untuk apa aku ada
Benar kan ?
Hidupku untuk ini semua
Tak perlu ada sesal,
yang mengganjal
Aku bahagia karenanya
Hanya kadang,
Aku juga ingin didengar
10 Juli 2010
Lunatic's Words ( I )
Aku takut menghadapi hari esokku
Aku takut menemui aral di depanku
Aku takut aku tak mampu teruskan langkahku
Aku takut tak bisa bangun saat ku jatuh
Aku takut ’lukanya’ tak kan sembuh
Aku takut kau tak di sana, untukku
10 juli 2010
Aku takut menemui aral di depanku
Aku takut aku tak mampu teruskan langkahku
Aku takut tak bisa bangun saat ku jatuh
Aku takut ’lukanya’ tak kan sembuh
Aku takut kau tak di sana, untukku
10 juli 2010
Kamis, 01 Juli 2010
The Unfairness ( Part III )
Mereka tak tahu
Dan tak pernah tahu
Dan andai mereka tahu
Aku lelah...
Selalu resah...
Bahkan mengalah...
Jika mereka terjatuh,
Untuk apa mengeluh ?
Padaku...
Jika mereka tak butuh
Kenapa tak bunuh ?
Aku...
16 Juli 2009
Dan tak pernah tahu
Dan andai mereka tahu
Aku lelah...
Selalu resah...
Bahkan mengalah...
Jika mereka terjatuh,
Untuk apa mengeluh ?
Padaku...
Jika mereka tak butuh
Kenapa tak bunuh ?
Aku...
16 Juli 2009
Rabu, 23 Juni 2010
The Unfairness ( Part II )
Bukan aku yang meminta
Bukan aku yang inginkan
Bukan aku yang mencari
Tapi mengapa aku yang miliki ?
Akan kubuang ...
Jika aku bisa
Jika aku mampu
Jika aku sanggup
Tapi jika aku tak mau ?
Masihkah mereka memaksa ?
Masihkah mereka menuntut ?
Akankah mereka tahu ?
Akankah mereka sadar ?
Bahwa tak semudah itu,
Menjadi diriku..
21 Juni 2010 .
Bukan aku yang inginkan
Bukan aku yang mencari
Tapi mengapa aku yang miliki ?
Akan kubuang ...
Jika aku bisa
Jika aku mampu
Jika aku sanggup
Tapi jika aku tak mau ?
Masihkah mereka memaksa ?
Masihkah mereka menuntut ?
Akankah mereka tahu ?
Akankah mereka sadar ?
Bahwa tak semudah itu,
Menjadi diriku..
21 Juni 2010 .
Langganan:
Postingan (Atom)